Thursday, September 25, 2008

[Dear Sari] Sebenernya Cermin itu Sudah Lama Ada

Dear, Sari.

Sejak dulu, ketika kita berdua seperti gila memutuskan kepribadian sebuah pohon, ada yang menakutkan di antara pohon-pohon itu. Tapi kita lengah sebab jiwa kita seperti tunas di pucuk-pucuk pohon besar itu: berada di atas, tak sanggup melihat ke balik batang-batang tua yang gagah tapi keropos. 

Kita juga tidak mampu melihat arti harfiah pohon yang tanpa daun: kematian. Yang kita saksikan saat itu di pinggir danau hanyalah eksentrik dan keinginan untuk berpetualang.  

Sebagaimana juga langit, Sari, ia juga menurunkan badai bukan melulu senja dan hujan yang kita cinta.

Sayap-sayap itu kau temukan di dasar danau, Sayang. Apa yang kau harapkan dari danau gelap yang sebetulnya meruapkan aroma anyir? Tentu saja serangga akan terselip di antaranya. Sementara kelontengan kereta lah yang paling nyata sebab ia mengingatkan kita pada sebuah perjalanan. 

Suatu hari, dengan tubuh penuh luka dan lebam yang membuat hati kita sakit, kita akan kembali ke tepian danau itu. Dengan mata yang berbeda.  
 

No comments:

Post a Comment