Sejak dulu, ketika kita berdua seperti
gila memutuskan kepribadian sebuah pohon, ada yang menakutkan di antara
pohon-pohon itu. Tapi kita lengah sebab jiwa kita seperti tunas di
pucuk-pucuk pohon besar itu: berada di atas, tak sanggup melihat ke
balik batang-batang tua yang gagah tapi keropos.
Kita
juga tidak mampu melihat arti harfiah pohon yang tanpa daun: kematian.
Yang kita saksikan saat itu di pinggir danau hanyalah eksentrik dan
keinginan untuk berpetualang.
Sebagaimana juga langit, Sari, ia juga menurunkan badai bukan melulu senja dan hujan yang kita cinta.
Sayap-sayap
itu kau temukan di dasar danau, Sayang. Apa yang kau harapkan dari
danau gelap yang sebetulnya meruapkan aroma anyir? Tentu saja serangga
akan terselip di antaranya. Sementara kelontengan kereta lah yang paling
nyata sebab ia mengingatkan kita pada sebuah perjalanan.
Suatu
hari, dengan tubuh penuh luka dan lebam yang membuat hati kita sakit,
kita akan kembali ke tepian danau itu. Dengan mata yang berbeda.
No comments:
Post a Comment