Dipasangin internet sama lumba2 di rumah hohoho! Urusan bayar tagihan
kumaha engke weehhhh, dia kasihan kali sama ibu hamil, harus turun
gunung naek ojeg demi ke warnet.
Langsung ketemuan sama cut dan
reed di YM. Udah lama banget kaga ngobrol sama pasangan itu. Yang satu
ngegosipin orang, yang satunya lagi ngomongin pos-kolonialisme *gubrak*.
Tapi asik banget, otak jadi ga kosong lagi deh. Keisi gosip haha.
Ngga
kerasa nih, bentar lagi mau 6 bulan. Udah mulei kerasa anakku cukup
aktif, apalagi ibunya tidur mulu, jadi weh kaga bisa diem.
Kemaren sore ada ikan terbang loh, di belakang rumahku. Ada yang masuk tiba-tiba di kepalaku. Orang bilang inilah inspirasi ;)
Sunday, December 30, 2007
Thursday, December 6, 2007
Bukan Begitu, Nak?
Maaf, Nak. Gara-gara air mata yang tidak berhenti, perut Ibu mengeras.
Apa kau kerahkan seluruh tenaga dari tubuh rapuhmu itu untuk bertanya
ada apa dengan Ibu?
Tidak perlu khawatir. Nanti kau akan tahu bantingan pintu bukan berarti kami tidak saling cinta. Lidah tajam yang menggores hati ayah ibumu bukan karena kami tidak saling sayang. Ini semua karena kami tidak mampu mengekang Mau yang melulu ingin didahulukan. Tidak sanggup meredam ambisi yang berjalan di dua sisi.
Tidurlah lagi dengan tenang. Besok kita akan lupa tentang malam ini.
Tidak perlu khawatir. Nanti kau akan tahu bantingan pintu bukan berarti kami tidak saling cinta. Lidah tajam yang menggores hati ayah ibumu bukan karena kami tidak saling sayang. Ini semua karena kami tidak mampu mengekang Mau yang melulu ingin didahulukan. Tidak sanggup meredam ambisi yang berjalan di dua sisi.
Tidurlah lagi dengan tenang. Besok kita akan lupa tentang malam ini.
Sunday, November 25, 2007
Sebelum Tiba Sudah Rindu
Ke sini, Nak! Di bawah pohon ada benang yang mengikat pikiran milik
ibu. Maafkan Ibu yang seringkali melayang melupakanmu. Ibu belum tahu
bagaimana cara membawamu terbang, bertamasya ke pinggir hutan.
Suatu hari nanti, Nak, kita berdua akan bertengkar tentang jalan mana yang paling cepat menuju rumah kayu tempat ibu menyimpan rahasia.
Cepatlah datang, Nak! Sebelum melihatmu, Ibu sudah merindukanmu
Suatu hari nanti, Nak, kita berdua akan bertengkar tentang jalan mana yang paling cepat menuju rumah kayu tempat ibu menyimpan rahasia.
Cepatlah datang, Nak! Sebelum melihatmu, Ibu sudah merindukanmu
Sunday, November 18, 2007
Duh....
Rasanya
malas menjelaskan. Kalau kepala sudah mampat, kalau hati sudah digedor
kencang, apa masih bisa menerima penjelasan. Padahal tadinya aku ingin
menjelaskan, ingin meluruskan ada apa di balik kertas bernomor, di balik
tetek bengek perjanjian. Tapi, mendengar reaksi orang-orang, bahkan
suamiku sendiri, mendadak lenyap inginku itu.
Entah apa keputusanku ini benar. Tapi ada ketidakpedulian yang melesak tiba-tiba. "Bukan urusanku, ah!" Begitu godanya berulang-ulang. Benarkah? Lalu kenapa ketidakenakan juga menyelinap di jedanya?
Well, terlepas dari itu, semoga ada manfaat dari kehadirannya, dari semangat dan pengalamannya.
Entah apa keputusanku ini benar. Tapi ada ketidakpedulian yang melesak tiba-tiba. "Bukan urusanku, ah!" Begitu godanya berulang-ulang. Benarkah? Lalu kenapa ketidakenakan juga menyelinap di jedanya?
Well, terlepas dari itu, semoga ada manfaat dari kehadirannya, dari semangat dan pengalamannya.
Friday, November 16, 2007
Susana: Hantu yang Waras
Orang-orang
yang udah bisa nonton film di tahun 80an pasti kenal Susana. The living
legend of horror movies. Sundel bolong adalah masterpiece-nya. Tanpa
banyak bicara, Susana menyebarkan teror lewat film-filmnya. Jadi senjata
ibu-ibu kalau anak2nya nakal. Aura mistis seolah melekat kuat di diri
Susana. She's not even considered as a real thing.
Tapi,
melihat Susana di acara gosip membuat gw menyimpulkan bahwa dia adalah
hantu yang waras. Kalau mendengar artis2 horor muda masa kini ditanya
tentang pengalaman syutingnya, ada aja cerita mistisnya. Yang lihat
nenek2, kesurupan, pita film rusak, atau merasa bulu2 meremang seolah
merasakan kehadiran yang gaib. Maka persiapan pun harus matang,
tumpengan dulu, bawa kertas bertuliskan ayat, atau yang paling sering
adalah membawa pawang arwah atau paranormal untuk "membersihkan" lokasi syuting.
Tapi,
Susana tidak. Dan ini membuyarkan bayangan orang tentang dirinya.
Susana dianggap tidak jauh dari ritual-ritual mistis. Susuk, makan bunga
melati, pemujaan, atau titisan arwah.
Dia
balik menasehati yang muda-muda itu, bahwa hal2 yang dianggap aneh di
lokasi tak lebih dari sekedar angan-angan kita saja. Sugesti belaka.
Karenanya dia lantas membantah dengan tegas pernah kesurupan atau
mengalami hal yang2 aneh.
Kalau
makan bunga melati dia tidak membantah, tapi alasannya pun tidak berbau
mistis. Simply because she loves to eat flower. Tidak cuma melati, tapi
juga mawar, kantil, kenanga. Meski sekarang sudah dia hentikan, takut
kena pestisida katanya.
Susana benar-benar waras.
Wednesday, November 14, 2007
Jadi Banyak?
Blog gw kok jadi banyak ya. Iseng-iseng nyelamatin limakelopak ternyata bisa bo...http://limakelopak.blogspot.com
Melihat postingan gw dulu, rasanya aneh. Kok gw bisa ya, melupakan bagaimana menangkap ide dan menuangkan dalam kata-kata. Udah nikah bukannya tambah inspiratif, malah lebur dalam waktu. Padahal permasalahan makin kompleks, dan kehidupan semakin terlihat nyata.
Melihat postingan gw dulu, rasanya aneh. Kok gw bisa ya, melupakan bagaimana menangkap ide dan menuangkan dalam kata-kata. Udah nikah bukannya tambah inspiratif, malah lebur dalam waktu. Padahal permasalahan makin kompleks, dan kehidupan semakin terlihat nyata.
Wednesday, November 7, 2007
Back to Blog?
He
he he..ga percaya saya balik lagi ke sini. Kembali ke asal. Berkencan
intim dengan blogger. Tapi, sungguh, saya kangen blogging. Kangen jadi
narsis, menelanjangi diri sendiri. So many things in my mind, so many
things have been opressed.
Jadi, demi kesehatan mental saya, saya harus mengelupas layer diri saya satu-satu. Juga demi anak yang saya kandung. Tentu saya ingin anak saya nanti bisa mengenal ibunya sebagai ibu yang normal.
Syukur-syukur saya bisa mengelupas layer dengan pisau yang cantik seperti puisi atau prosa. Tapi, pisau itu sudah lama tumpul. Mungkin dengan tangan telanjang yang sekarang saya bisa menemukan pisau cantik itu kembali.
Nah, sekarang saya akan jadi ibu!
Jadi, demi kesehatan mental saya, saya harus mengelupas layer diri saya satu-satu. Juga demi anak yang saya kandung. Tentu saya ingin anak saya nanti bisa mengenal ibunya sebagai ibu yang normal.
Syukur-syukur saya bisa mengelupas layer dengan pisau yang cantik seperti puisi atau prosa. Tapi, pisau itu sudah lama tumpul. Mungkin dengan tangan telanjang yang sekarang saya bisa menemukan pisau cantik itu kembali.
Nah, sekarang saya akan jadi ibu!
Subscribe to:
Comments (Atom)