Rasanya
malas menjelaskan. Kalau kepala sudah mampat, kalau hati sudah digedor
kencang, apa masih bisa menerima penjelasan. Padahal tadinya aku ingin
menjelaskan, ingin meluruskan ada apa di balik kertas bernomor, di balik
tetek bengek perjanjian. Tapi, mendengar reaksi orang-orang, bahkan
suamiku sendiri, mendadak lenyap inginku itu.
Entah apa
keputusanku ini benar. Tapi ada ketidakpedulian yang melesak tiba-tiba.
"Bukan urusanku, ah!" Begitu godanya berulang-ulang. Benarkah? Lalu
kenapa ketidakenakan juga menyelinap di jedanya?
Well, terlepas dari itu, semoga ada manfaat dari kehadirannya, dari semangat dan pengalamannya.
No comments:
Post a Comment