Akhirnya aku nemu cara (yang sementara ini) ampuh untuk membuatnya tidur: didongengin.
Pertama
dongeng kisah si kancil dan buaya. Aman. Dongeng hari kedua cerita dari
halaman belakang tabloid Nakita, kisah anak serigala yang ngga sabaran
kepingin nyeberang sungai. Aman lagi. Hari ini, yang kepikiran adalah
dongeng Timun Mas. Meskipun ngga hafal semua cincay lah bisa ngarang
bebas.
Sampai
adegan suami isteri itu dapet anak, Koosha masih anteng
terkantuk-kantuk. Kadang-kadang dia tertawa, bikin emak yang sedang
ngarang bebas ini melanjutkan dengan semangat.
"Iya, de, Buto Ijo datang ke rumah mereka, menagih janji mengambil Timun Mas."
Koosha masih terkantuk-kantuk.
"Sang
isteri ketakutan. Ia panggil suaminya. Suaminya yang juga ketakutan
memberanikan diri keluar menghadapi buto ijo, sementara sang isteri
gemetar mengintip dari balik pintu."
Koosha mulai menatapku terbengong-bengong.
"Wahai
buto ijo, bisakah kau menunda mengambil anak kami. Sekarang dia masih
balita. Masih kurus. Dagingnya belum banyak. Belum bisa dimakan enak.
Rasa dagingnya pun masih pahit. Datanglah sepuluh tahun lagi, Timun Mas
pasti akan jadi anak yang sehat, gemuk, banyak dagingnya. Saat itu
engkau pasti memakan Timun Mas dengan nikmat."
Koosha langsung nangis.
Haha. Baru sadar kalau dongeng itu sangat tidak cocok sebagai pengantar tidur bayi.
Dongeng
pun kemudian berganti menjadi cerita Bawang Merah Bawang Putih. Tak
lupa sebelum dimulai aku memberi petuah bijak kepada Koosha,
"Jangan benci bawang merah, ya. Bawang merah juga enak buat masakan!"
Dan Koosha pun tertidur dengan tenang...