Maaf, Nak. Gara-gara air mata yang tidak berhenti, perut Ibu mengeras.
Apa kau kerahkan seluruh tenaga dari tubuh rapuhmu itu untuk bertanya
ada apa dengan Ibu?
Tidak perlu khawatir. Nanti kau akan tahu
bantingan pintu bukan berarti kami tidak saling cinta. Lidah tajam yang
menggores hati ayah ibumu bukan karena kami tidak saling sayang. Ini
semua karena kami tidak mampu mengekang Mau yang melulu ingin
didahulukan. Tidak sanggup meredam ambisi yang berjalan di dua sisi.
Tidurlah lagi dengan tenang. Besok kita akan lupa tentang malam ini.
No comments:
Post a Comment