Reog Ponorogo dari Malaysia? Batik juga? Loh, kemarin juga lagu Rasa
Sayange? Apa Malaysia sebegitu tololnya mengklaim budaya yang sudah
'dikenal' bangsa Indonesia sebagai warisan leluhurnya? Apa kita sebegitu
tak acuhnya hingga so outrageous dengan klaim itu?
Bagaimana
jika memang terjadi pertumbuhan budaya yang mirip dengan budaya kita di
Malay? Sebab alkisah orang-orang ponorogo yang mengadu nasib di sana,
yang kemudian beranak pinak di Johor, memainkan reog sebagai sebuah
kerinduan terhadap tanah asal. Mungkin saja kemudian ada proses blending
antara budaya reog asli dengan budaya Malaysia lalu membentuk tarian
baru. Sama seperti keroncong yang katanya berasal dari Portugis, tapi
juga sudah bertransformasi ke bentuk keroncong yang sekarang ada. Kalau
sudah begini kita bisa apa?
Apa itu budaya ngomong-ngomong? Salah satu definisinya adalah a
way of life of a group of people--the behaviors, beliefs, values, and
symbols that they accept, generally without thinking about them, and
that are passed along by communication and imitation from one generation
to the next.
Kalau sudah begini gimana caranya kita
menghujat Malaysia, yang penduduknya saja serumpun dengan suku Melayu
yang kebanyakan ada di Kepulauan Riau. Kan dari Indonesia-indonesia
juga? Atau adanya orang Bugis dan orang Jawa yang jadi TKI di sana. Apa
kita tidak jadi menghujat diri sendiri? Ada keroncong, ada barongsai,
ada dansa-dansi. Ada marawis, ada gambus, ada dangdut. Belum lagi
pengaruh pop-culture dari barat (atau timur; Jepang dan Korea?) terhadap
cara hidup anak muda (urban) sekarang.
Entahlah. Mungkin selama
ini kita sudah merasa sedemikian hancur martabat dan harga dirinya di
mata dunia. Bangsa terkorup, Bangsa dengan polusi tinggi, Bangsa miskin,
Bangsa tolol, hingga ketika masih ada yang (seharusnya) bisa
dibanggakan, yaitu seni dan budaya yang luar biasa kaya, lalu diklaim
orang, kita jadi marah bukan kepalang.
----------
ini postingan dari www.nazlasyihab.blogspot.com sebelum akhirnya blog itu saya matikan *hiks, hiks*
No comments:
Post a Comment