Sunday, June 22, 2008

Akhirnya

Akhirnya dapet juga kontrakan baru, setelah sebulan ini kurilingan di Awiligar nyari rumah yang bersedia menampung kami selama 3 bulan. Yang punya rumah baik banget, meskipun terhitung masuk tanggal 1 juli, kami bebas mau masukin barang kapan saja. Kita minta ijin pasang speedy saja, langsung mereka setujui. Ya, internet adalah salah satu syarat utama yang aku ajukan pada lumba-lumba kalau kita pindah kontrakan. Kalau ngga ada internet, nanti aku bisa bulukan di dapur.

Tapi...males banget packing! Secara barangnya nambah dua kali lipat dari pindahan tahun lalu huhuhu...

Thursday, June 19, 2008

Ngga Nangis

Tadi pagi Koosha imunisasi DPT. Tiga kali imunisasi di Hermina, Koosha selalu nangis. Sejak kasus kejang kemarin, Koosha pindah dokter dan imunisasi tadi dia ngga nangis. Dokternya canggih, kecepatan menyuntiknya setara dengan kecepatan gelombang cahaya *dramatisir*.

Aku pun sejak kecil takut betul disuntik. Pernah waktu sakit tifus dan harus ambil darah, aku stress sampai muntah-muntah dan jari tangan kaku-kaku hehe. Baru di dokter Hartanto, di jalan anggrek (bandung),  aku berani disuntik, soalnya ngga kerasa sama sekali. Nah, sepertinya keahlian menyuntik dokter Kelly sama dengan dokter Hartanto itu. Secepat kilat.

Btw, mahal amat ya imunisasi 5 in 1 huhuhu....

Tuesday, June 17, 2008

Kok?

Firda, anak sepupuku yang baru kelas satu SD, disuruh makan sama tante-tantenya, dia menolak,

"Ngga, ah, aku lagi diet."

Dan benar dia memang diet, yang tadinya gendut jadi kurus.

Tami, keponakanku, kelas dua SD, suatu hari bertanya (serius) kepadaku,

"Tante, Tami gendut yah?"

Kok "kesadaran" akan bentuk tubuh sudah menimpa anak-anak sekecil itu?

Monday, June 16, 2008

(nek) Ne (ko-neko) (dike) Ro (yok)

Yo opo sih rek! Cah wedhok kok koyo ngene. Wagu tenan!

Banyak perempuan berjuang melawan kekerasan dari laki-laki, ini malah pukul-pukulan sesamanya.  Aduh, biyung...

Sunday, June 15, 2008

Mengenang Persalinan

Tiga hari sebelum bersalin, aku ke tempat sepupu yang baru lahiran. Sepupuku ini jago karate, tomboi, independent, pokoknya wonder woman deh. Tapi, pas lahiran dia bilang dia nge-rock. Tiap kontraksi dia teriak-teriak ngomelin suaminya.

Sejak awal hamil aku pun sudah berniat seperti itu. Kalau nanti aku bersalin aku akan ngomelin lumba-lumba, jambak-jambak, pukul-pukul, cakar-cakar, tendang-tendang. Tapi, bo, kenyataannya berkata lain. Karena stress, aku muntah-muntah. Mungkin sampai lima kali, yang terakhir malah muntah kuning saking udah ga ada yang bisa dimuntahin lagi. Jadilah aku nge-dangdut, ga sanggup nge-rock. Aku cuma sanggup bilang sakit dengan mendayu-dayu dua kali, sekali ke lumba-lumba sekali ke dokternya. Bukan karena aku tabah, tapi karena kehabisan tenaga.

Beruntung sekali lumba-lumba terlepas dari jeratan kekerasan dalam rumah tangga...

Tapi, karena terlepas dari KDRT itulah sehabis melahirkan, dengan semena-menanya lumba-lumba komentar,

"Kok, ngelahirin gitu doang? Ngga kaya yang dibilang orang-orang?"

Busyet!

Friday, June 13, 2008

Bagaimana angle terbaik, Anda?

Kalau saya sebisa mungkin tidak tampak depan. Bahu, lengan, dada, tidak fotogenik. Foto di atas merupakan kesalahan besar. Sedikit menyamping jauh lebih baik atau kalau perlu sebagian tubuh ngumpet di balik badan teman.

Bagaimana dengan Anda?

Thursday, June 12, 2008

Hantu

Teman lama mengirimiku imel. Sebetulnya agak canggung juga dia kusebut teman. Sebab ketika SMA dia mengenaliku melalui puisi-puisiku, dan aku kepadanya melalui komentarnya terhadap puisiku. Kami hanya pernah bertemu sekali. Ketika bertemu, dia bilang aku penuh kecanggungan. Ya, aku memang begitu. Setiap bertemu orang baru. Juga orang lama yang kukenal di dunia maya atau lewat tulisan belaka.

Dia bilang tinggal aku teman dari kebesaran masa muda. Dia juga bilang kini hidupnya melulu kebosanan dan ketidakpastian. Dia merindukan teman-temannya. Yang kini 'terpaksa' dia putuskan hubungan (Aku paham itu, hubungan mereka memang kompleks).

Ya, masa lalu kadang menghantui. Apalagi ketika masa sekarang kita anggap tidak memiliki makna, kemegahan, prestasi seperti masa lalu kita. Ah, sering akupun begitu. Mungkin di masa lalu kita berjalan anggun di karpet merah, sekarang kita berjalan di lorong-lorong sempit. Penuh amarah dan gelisah.

Teman, kau berdoa untuk kebahagiaan keluarga kecilku. Aku berdoa untuk kegelisahanmu.